Mubarok: Lebih Dahsyat Luthfi Hasan daripada Nazaruddin
9C33 TARMEDI
JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan
Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok menilai kasus korupsi yang
menimpa mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq
bukan persoalan sederhana. Kasus korupsi daging sapi impor yang menjerat
Luthfi sebagai tersangka tergolong spektakuler.Pasalnya, kasus korupsi tersebut dilakukan langsung oleh bekas orang nomor satu di partai yang berlandaskan dakwah. "Korupsi Nazaruddin memang dahsyat karena dia dulu Bendahara Umum Demokrat. Tapi, lebih dahsyat lagi Luthfi karena dia dulu seorang presiden (PKS)," kata Mubarok di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Minggu (3/2/2013).
Mubarok menjelaskan, kedahsyatan seseorang menjadi tersangka korupsi termasuk dalam ranah persepsi publik. Persepsi itulah yang akan menentukan tingkat dosa korupsi seorang tokoh di mata masyarakat.
Menurut Mubarok, Partai Demokrat sebagai partai terkorup terbantahkan ketika PKS dengan presidennya terbukti melakukan korupsi. "Seputih-putih apa pun partainya, tapi kalau sudah kena kotoran sapi ya akan tidak suci lagi," tegasnya.
Ia menambahkan, watak dari parpol adalah kekuasaan. Sementara, lanjutnya, kekuasaan itu beraliansi dengan tindakan koruptif. Menurutnya, tindakan Luthfi yang memegang kekuasaan penuh di PKS membuktikan hal itu.
Dengan demikian, istilah tsunami politik yang menerjang PKS sangatlah tidak tepat. Sebab, hal itu bertentangan dengan watak politik yang cenderung korup. "Selama masih ada politik maka akan ada korupsi," katanya.
Lebih jauh Mubarok menambahkan, PKS lebih baik lapang dada saat korupsi yang dilakukan Luthfi dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurutnya, kasus korupsi yang kini menjerat PKS ibarat arisan. Sebab, lanjutnya, Partai Demokrat telah terlebih dulu menjadi pemenang arisan sehingga Demokrat dulu dijauhi publik karena hal tersebut. Namun, kini dewi fortuna tidak lagi menaungi PKS. Sebab, PKS pada akhirnya menjadi pemenang arisan tersebut.
"Sekarang arisannya PKS sebab ketika kasus korupsinya naik maka suaranya turun. Tapi, Demokrat jumlah suaranya akan naik duluan karena arisannya sudah dapat di awal, bukan belakangan (jelang Pemilu 2014)," katanya.
Sumber : KOMPAS.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar