9I12 FITRI FARIDAH
Kontes Nasional Tanpa Awak Digelar
Kontes pesawat tanpa awak tingkat nasional digelar kelima kalinya di Bandung, diikuti 26 tim dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat. "penyelenggaraan ini diharapkan mampu menumbuhkan minat untuk belajar teknologi," kata kepala Program Studi Aeronautika dan Astronautika Institut Teknologi Bandung Taufik Mulyanto. Kontes pesawat tanpa awak mempertandingkan kategori menjatuhkan beban dari ketinggian serta kategori foto udara.
Pesawat tanpa awak terdiri dari beberapa komponen, seperti radio untuk pengendali jarak jauh, servo untuk menggerakkan bagian sayap, motor untuk menggerakkan baling-baling, dan baterai sebagai sumber tenaga. Untuk kategori foto udara, pesawat juga dilengkapi kamera hingga perangkat global positioning system (GPS) untuk memastikan lokasi dengan koordinat.
Teknologi pesawat tanpa awak dengan dua kategori yang dilombakan sebetulnya bisa diaplikasikan dalam kondisi bencana, yakni menjatuhkan bantuan logistik atau memetakan daerah bencana. namun, ujar Taufik yang sekarang dilakukan masih terlalu jauh dari target itu karena risetnya masih tahap awal dan belum sampai tahap bisa diandalkan.
Salah satu peserta dari SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo mengikutsertakan pesawat berbahan dasar gabus. Salah satu anggota tim, Rizki Indra Pratama mengatakan partisipasi mereka semata-mata didorong oleh ketertarikan dibidang robotika. Pesawat yang menggunakan enam servo ini dirakit dengan biaya Rp 1,5 juta, belum termasuk pengendali jarak jauh.
Selain gabus, ada pula tim yang menggunaka kayu balsa sebagai bahan dasar pesawat, tujuannya lebih ringan tetapi tetap kokoh. Ada pula yang menggunakan desaiN low speed flyer dengan memasang baling-baling dibelakang, seperti tim dari Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kontes pesawat tanpa awak ini digelar pertama kalinya diruang terbuka, yakni pangkalan udara Sulaeman, Bandung.