Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

Penggunaan Antibiotik Memprihatinkan



9C01 ADE AAN ANIYATI

Selama 40 tahun terakhir, penggunaan antibiotik secara serampangan menjadi masalah di Indonesia. Upaya menanggulangi sudah dilakukan berbagai pihak, tetapi hasilnya tidak optimal. Perlu langkah tegas dan serius agar dampak resistensi antibiotik tidak semakin menyebar.

”Pemerintah perlu lebih tegas mengatur penggunaan dan peredaran antibiotik,” kata Ketua Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Anis Karuniawati dalam temu media jelang simposium Indonesia Antimicrobial Resistance Watch yang ke-8 di Jakarta, Kamis (14/2).

Meski termasuk obat keras, antibiotik dijual bebas tanpa resep dokter di apotek dan toko obat. Dokter sering kali memberikan antibiotik tanpa mengecek jenis kuman melalui uji laboratorium. Sebagian masyarakat biasa membeli dan mengonsumsi antibiotik untuk mengobati sendiri penyakit.

Menurut Anis, dokter berhak meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi. Namun, seharusnya dilakukan pemeriksaan laboratorium. ”Pengecekan laboratorium biasanya baru dilakukan jika antibiotik tidak memberi dampak,” katanya.

Perhatian serupa perlu diberikan terhadap penggunaan antimikroba, obat pembunuh mikroba yang lebih luas dari antibiotik (zat yang dihasilkan mikroba untuk membasmi mikroba lain). Kini, penyebaran mikroba yang resisten terhadap antimikroba menjadi ancaman dunia.

Resistensi bisa memperpanjang waktu sakit, perburukan kondisi klinis, serta menambah biaya kesehatan. Resistensi juga meningkatkan jumlah pasien di rumah sakit dan potensi pandemik mikroba yang resisten.

Guru Besar Mikrobiologi Klinik FKUI Usman Chatib Warsa mengatakan, kualitas antibiotik produksi dalam negeri sering kali lebih rendah dibandingkan dengan produk impor walau bahan aktifnya sama. Penyebabnya, pengelolaan bahan aktif antibiotik selama pengapalan dan di pelabuhan sering tak sesuai standar.

Penyimpanan antibiotik tidak pada suhu yang tepat juga terjadi pada rumah sakit di daerah. Akibatnya, sering terjadi resistensi antibiotik tertentu di daerah, tetapi tidak di kota besar.

Untuk membuat kebijakan, pemerintah perlu melakukan survei resistensi antimikroba nasional. ”Pemerintah perlu menggiatkan pencegahan infeksi di rumah sakit. Jika tidak, akan makin banyak kuman penyakit yang resisten,” ujarnya.

Pencegahan resistensi perlu segera dilakukan karena saat ini jarang perusahaan farmasi membuat antibiotik baru.

Chatib menambahkan, sejak 2005, pemerintah mewajibkan rumah sakit tipe B memiliki ahli mikrobiologi klinik. Saat ini, ada sekitar 400 rumah sakit tipe B. Namun, jumlah dokter spesialis mikrobiologi klinik baru sekitar 150 orang dari empat fakultas kedokteran di Indonesia.

Pasien juga perlu mengingatkan dokter apa memang perlu antibiotik untuk mengobati penyakitnya.

Penggunaan Antibiotik Memprihatinkan



9C01 ADE AAN ANIYATI

Selama 40 tahun terakhir, penggunaan antibiotik secara serampangan menjadi masalah di Indonesia. Upaya menanggulangi sudah dilakukan berbagai pihak, tetapi hasilnya tidak optimal. Perlu langkah tegas dan serius agar dampak resistensi antibiotik tidak semakin menyebar.

”Pemerintah perlu lebih tegas mengatur penggunaan dan peredaran antibiotik,” kata Ketua Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Anis Karuniawati dalam temu media jelang simposium Indonesia Antimicrobial Resistance Watch yang ke-8 di Jakarta, Kamis (14/2).

Meski termasuk obat keras, antibiotik dijual bebas tanpa resep dokter di apotek dan toko obat. Dokter sering kali memberikan antibiotik tanpa mengecek jenis kuman melalui uji laboratorium. Sebagian masyarakat biasa membeli dan mengonsumsi antibiotik untuk mengobati sendiri penyakit.

Menurut Anis, dokter berhak meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi. Namun, seharusnya dilakukan pemeriksaan laboratorium. ”Pengecekan laboratorium biasanya baru dilakukan jika antibiotik tidak memberi dampak,” katanya.

Perhatian serupa perlu diberikan terhadap penggunaan antimikroba, obat pembunuh mikroba yang lebih luas dari antibiotik (zat yang dihasilkan mikroba untuk membasmi mikroba lain). Kini, penyebaran mikroba yang resisten terhadap antimikroba menjadi ancaman dunia.

Resistensi bisa memperpanjang waktu sakit, perburukan kondisi klinis, serta menambah biaya kesehatan. Resistensi juga meningkatkan jumlah pasien di rumah sakit dan potensi pandemik mikroba yang resisten.

Guru Besar Mikrobiologi Klinik FKUI Usman Chatib Warsa mengatakan, kualitas antibiotik produksi dalam negeri sering kali lebih rendah dibandingkan dengan produk impor walau bahan aktifnya sama. Penyebabnya, pengelolaan bahan aktif antibiotik selama pengapalan dan di pelabuhan sering tak sesuai standar.

Penyimpanan antibiotik tidak pada suhu yang tepat juga terjadi pada rumah sakit di daerah. Akibatnya, sering terjadi resistensi antibiotik tertentu di daerah, tetapi tidak di kota besar.

Untuk membuat kebijakan, pemerintah perlu melakukan survei resistensi antimikroba nasional. ”Pemerintah perlu menggiatkan pencegahan infeksi di rumah sakit. Jika tidak, akan makin banyak kuman penyakit yang resisten,” ujarnya.

Pencegahan resistensi perlu segera dilakukan karena saat ini jarang perusahaan farmasi membuat antibiotik baru.

Chatib menambahkan, sejak 2005, pemerintah mewajibkan rumah sakit tipe B memiliki ahli mikrobiologi klinik. Saat ini, ada sekitar 400 rumah sakit tipe B. Namun, jumlah dokter spesialis mikrobiologi klinik baru sekitar 150 orang dari empat fakultas kedokteran di Indonesia.

Pasien juga perlu mengingatkan dokter apa memang perlu antibiotik untuk mengobati penyakitnya.

MENGAPA DOKTER BEDAH MENGGUNAKAN BAJU HIJAU?


 9A01 AGUNG PURNOMO



Semula memang yang digunakan adalah warna putih yang melambangkan kebersihan. Namun, seorang dokter berpengaruh menggantinya dengan warna hijau karena menurut dia warna hijau lebih nyaman di mata.


Walaupun sulit dikonfirmasi mengapa warna hijau jadi populer karena alasan ini, hijau memang cocok bagi dokter untuk melihat lebih baik di ruang pembedahan, karena hijau adalah lawan dari warna merah dalam roda warna.

Menurut seorang ahli psikologi, melihat pada warna hijau dapat menyegarkan mata ahli bedah dalam melihat benda-benda bewarna merah, termasuk organ-organ tubuh yang berlumuran darah saat pembedahan. Melihat warna merah terus menerus menyebabkan sinyal warna merah di otak memudar sensifitasnya terhadap variasi warna merah.

Alasan lainnya adalah, terus-menerus berfokus pada warna merah akan menyebabkan ilusi nofa berwarna hijau pada latar warna berwarna terang atau putih. Ini akan menggangu penlihatan dokter. Jika warna baju ahli bedah berwarna hijau, ilusi ini akan memudar dan tidak akan mengganggu penglihatan dokter.

SUMBER : CrowdVoice

Bocah SD Ini Dilarang Gunakan Toilet Perempuan karena Transgender

9D07 DINI LISDAYANTI

Coy Mathis terlahir sebagai kembar tiga yang mana semuanya laki-laki. Namun ia memiliki perilaku sebagai perempuan yang membuatnya jadi transgender. Sayangnya, transgender ini membuatnya dilarang menggunakan toilet perempuan di sekolah dasarnya.

Coy sudah berperilaku seperti perempuan sejak usia 18 bulan. Ketika saudara laki-lakinya bermain dinosaurus, Coy justru senang bermain boneka Barbie. Hingga saat ia berusia 4 tahun, Coy mengatakan pada ibunya bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya dan ia pun menjadi seorang transgender.

Keluarga Mathis telah lama berjuang agar bisa mendapatkan identifikasi gender bagi Coy. Ketika Coy mulai mengeluh tentang sesuatu yang salah di tubuhnya, orang tua membawanya ke dokter spesialis.

Coy didiagnosis memiliki gangguan identitas gender, dan dokter merekomendasikan belum ada intevensi medis yang perlu dilakukan, tapi membiarkan ia hidup sebagai seorang perempuan.

Sejak TK, Coy sudah menggunakan fasilitas untuk perempuan, ketika orang tua memberitahukan hal ini ke sekolah, pihak sekolah mengatakan baik-baik saja dan tidak masalah.

Saat berusia 6 tahun Coy sudah sekolah di Eagle Elementary School di Fountain, Colorado dan ia menggunakan pakaian perempuan. Bahkan teman-teman sekelas dan guru telah menggunakan kata ganti perempuan untuknya, serta Coy pun menggunakan kamar mandi perempuan.

Tapi sejak Desember lalu, pejabat sekolah mengatakan bahwa Coy tidak bisa lagi menggunakan fasilitas perempuan dan memerintahkannya untuk menggunakan toilet laki-laki atau kamar mandi perawat.

Orang tua Coy, Jeremy dan Kathryn Mathis meminta bantuan pada Transgender Legal and Defense Education Fund (TLDEF) untuk mengajukan keluhan bahwa sekolah telah melanggar hak-hak Coy. Bahkan sejak Natal lalu Coy memilih belajar di rumah. Orang tua khawatir kebijakan ini akan menimbulkan stigma dan bullying terhadap anaknya.

"Kami berfokus bisa membuat Coy kembali ke sekolah. Kami berharap kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat demi Coy," ujar direktur eksekutif TLDEF Michael Silverman, seperti dikutip dari ABCNews, Kamis (28/2/2013).

Pihak pengacara sekolah mengungkapkan keputusan ini memperhitungkan dampak masa depan pada anak yang memiliki alat kelamin laki-laki tapi menggunakan kamar mandi perempuan.

Sementara itu, siswa lain dan guru tidak melihat bahwa Coy memiliki alat kelamin laki-laki. Namun sekolah mengatakan nantinya takut orang tua dan siswa menjadi merasa tidak nyaman.

"Kami ingin Coy kembali ke sekolah bersama guru, teman dan kedua kakaknya. Tapi kami takut mengirimnya kembali sampai kami tahu bahwa sekolah memperlakukannya dengan baik," ujar Kathryn.

sumber:detik

Jumat, 15 Februari 2013

Jangan Pernah Remehkan Migran


9H33 SULASTRI

Migrain atau sakit kepala sebelah seringkali dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal migrain ini juga bisa menjadi tanda ada sesuatu yang serius di dalam tubuh. Kapan sinyal tersebut patut diketahui?

Migrain adalah sakit kepala berdenyut yang seringkali terjadi hanya pada satu sisi kepala saja. Namun gejala yang muncul bisa bervariasi pada masing-masing orang dan kadang tidak sama antara satu serangan dengan serangan berikutnya.

Biasanya jika orang sudah terbiasa migrain, ia tidak menyadari apabila gejalanya makin memburuk. Jika diamati, perubahan pola atau sakit kepala yang terasa berbeda bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius.

Jika mengalami salah satu dari gejala berikut ini, bisa jadi migrain yang dirasakan sudah serius, sebaiknya segera hubungi dokter, seperti dikutip dari CNNHealth, yaitu:

1. Sakit kepala yang datang secara tiba-tiba (kadang digambarkan seperti petir yang menyambar) dan berbeda dari migrain biasanya, bahkan kadang terasa seperti serangan migrain terburuk yang pernah dirasakan.

2. Migrain dan sakit kepala disertai dengan demam, leher terasa kaku, adanya ruam di kulit, kebingungan, penglihatan menjadi ganda, mati rasa di bagian tubuh atau kesulitan bicara.

3. Migrain yang dialami berhubungan dengan kejang-kejang.

4. Migrain yang terjadi setelah mengalami sakit tenggorokan atau penyakit pernapasan lain. Selama musim dingin dan flu yang mana sakit tenggorokan umum terjadi, migrain kadang lebih sering kambuh. Tanda peringatan biasanya ketika sakit tenggorokan hilang, tapi datang demam, leher kaku atau sakit kepala yang parah.

5. Migrain yang muncul setelah mengalami cedera kepala, terutama jika migrain ini terus memburuk dan intensitasnya makin sering.

6. Migrain kronis yang memburuk dan dipicu saat tubuh mengeluarkan tenaga berlebih seperti ketika batuk atau pindah tempat secara tiba-tiba.