Tampilkan postingan dengan label sensitif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sensitif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Mencegah Gatal Kulit akibat Eksim



ADE AAN ANIYATI 9C 01
Eksim adalah gangguan peradangan kulit yang dapat menyerang siapa saja, mulai dari bayi sampai orang dewasa. Dengan perawatan yang tepat, gatal kulit akibat eksim bisa dicegah.

Eksim atau dermatitis kontak sebenarnya adalah kondisi kulit yang dipengaruhi oleh faktor keturunan. Bila seseorang dalam keluarga menderita alergi, eksim adalah tanda pertama yang dapat menunjukkan si kecil juga memiliki bakat alergi.

"Banyak orang mengira eksim disebabkan oleh kuman, padahal sebenarnya ini merupakan kondisi kulit yang sensitif dan dipengaruhi faktor bakat alergi," kata dr.Lilik Norawati, Sp.KK, disela acara konferensi pers Pearls of Cosmetic Dermatology Symposium 2013 yang diadakan oleh Dove Medical dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia di Jakarta, Kamis (21/2/13).

Gejala eksim pada bayi antara lain adalah kulit kering, kemerahan, gatal, menebal, dan bersisik. Beberapa gejala tersebut juga dapat mengindikasikan masalah lain seperti ruam popok.

Perawatan kulit eksim yang utama, menurut Lilik adalah menghindari pencetusnya. Beberapa pencetus yang harus diwaspadai adalah kutu debu, keringat, udara kering, sampai detergen dalam sabun.

Untuk perawatan sehari-hari sebaiknya hindari produk perawatan kulit yang memiliki pewangi.

"Gunakan pula sabun mandi yang lembut dan mengandung pelembab khusus untuk kulit sensitif," kata dokter spesialis kulit dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta ini.

Kelembaban adalah fondasi bagi kulit yang sehat, terutama untuk penderita eksim. "Pelembab kulit wajib dipakai setiap hari, terutama setelah mandi. Sebaiknya pilih produk yang memiliki lemak pelindung," ujarnya.

Untuk eksim yang lebih berat peradangannya, dokter akan memberikan obat-obatan yang dikombinasikan dengan produk perawatan kulit.
Sumber: kompas

Ilmuwan Bisa Baca "Pikiran" Tikus

 9E30 SITI NURHARISA



CALIFORNIA - Ilmuwan asal Standford, Amerika Serikat menemukan cara untuk mengamati aktivitas otak tikus hidup secara real-time. Dengan demikian, ilmuwan dapat membaca "pikiran" tikus tersebut melalui aktivitas neurons atau syaraf.

Dilansir Tgdaily, Rabu (20/2/2013), temuan peneliti ini bisa digunakan untuk membantu mengembangkan terapi baru untuk penyakit neurodegenerative seperti Alzheimer. Peneliti menggunakan terapi genetik untuk membuat syaraf tikus mengekspresikan protein fluorescent hijau yang direkayasa untuk menjadi sensitif terhadap ion kalsium.

Ketika neuron berproses, sel alami akan mendapatkan ion kalsium, merangsang protein dan menyebabkan sel keseluruhan berpendar hijau terang. Sebuah mikroskop kecil ditanamkan tepat di atas tikus hippocampus.

Ini dilakukan untuk mengetahui memori spasial dan episodik serta menangkap cahaya sekira 700 neuron. Mikroskop terhubung ke chip kamera, yang mengirimkan versi digital dari gambar ke layar komputer.

Komputer lalu menampilkan video real-time dari aktivitas otak tikus. "Kami bisa mencari tahu di mana tikus berada dalam arena melalui melihat cahaya tersebut," tutur peneliti Mark Schnitzer.

Ketika tikus menggaruk dinding di daerah tertentu dari sebuah arena, maka neuron tertentu akan menunjukkan tanda menyalakan lampu hijau. Sedangkan, bila tikus bergerak ke daerah yang berbeda, cahaya dari neuron pertama akan memudar dan sel baru akan muncul.

"Hippocampus ini sangat sensitif terhadap lingkungannya. Sel berbeda merespon bagian berbeda pula dari sebuah arena," terangnya.

Lebih lanjut peneliti menjelaskan, perumpamaan penelitian ini mirip ketika seseorang berjalan kekantor"Beberapa neuron di hippocampus Anda menyala ketika Anda dekat dengan meja Anda dan lainnya 'terbakar' ketika Anda dekat dengan kursi Anda," jelasnya.

SUMBER:OKEZONE.COM