Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Harga Murah, Penyelewengan BBM Subsidi Makin Marak

9I32 SYARIFUDIN


Jakarta - Disparitas atau perbedaan harga antara BBM subsidi (Rp 4.500/liter) dengan non subsidi (Rp 9.000/liter) membuat penyelewengan BBM subsidi makin meningkat tiap tahunnya.

"Tiap tahun penyalahgunaan BBM subsidi makin tinggi, bahkan pada tahun 2012 jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2011," kata Ketua Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH) Migas) Andy Noorsaman Someng dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR yang dilakuakn di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

Berdasarkan hasil pengawasan distribusi BBM subsidi sejak 2007 hingga 2012, angka penyalahgunaan BBM subsidi yang berhasil diamankan BPH Migas terus meningkat. Di 2007 hanya sekitar 491 kiloliter (KL) dan di 2008 meningkat jadi 3.105,56 KL. Kemudian di 2009 sempat turun menjadi 664,62 KL, dan turun lagi di 2010 menjadi 523,65 KL.

"Namun pada 2011 angka penyalahgunaan BBM subsidi yang berhasil diamankan BBM Migas meningkat menjadi 1.224,59 KL," ujar Andy.

Makin lebarnya perbedaan harga BBM subsidi dengan non subsidi membuat penyalahgunaan BBM subsidi makin meningkat. Hal tersebut terlihat dari angka BBM subsidi yang berhasil diamankan BPH Migas melonjak berlipat-lipat dari tahun sebelumnya.

"Pada tahun 2011 hanya 1.224,59 KL namun pada 2012 angka penyalahgunaan BBM subsidi yang berhasil diamankan oleh BPH Migas mencapai 253.311,72 kiloliter," tegas Andy.

Jika dinilai dalam rupiah, nilai barang bukti yang berhasil diamankan BPH Migas dari upaya penyalahgunaan BBM pada di 2012 mencapai Rp 409,80 miliar.

"Tahun 2012 nilai barang bukti BBM yang mau disalahgunakan yang berhasil diamankan BPH Migas mencapai Rp 409,80 miliar, angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan nilai barang bukti penyalhgunaan BBM subsidi pada 2011 yang hanya mencapai Rp 22,72 miliar atau pada 2010 hanya 3,47 miliar," ungkap Andy lagi.

"Semua ini (penyalahgunaan BBM subsidi) akar masalahnya dikarenakan disparitas harga BBM subsidi dan bon subsidi yang masih lebar, selain itu infrastruktur utama dan pendukung (teknologi Informasi) dalam melakukan pengawasan belum memadai," tandas Andy.

Sumber: DETIK.COM

Jumat, 08 Februari 2013

Kapal Pengangkut Puluhan Ton BBM Meledak di Perairan Buton


ADE AAN ANIYATI 9C 01

BUTON - Kapal pengangkut milik Agen Penyalur Minyak Subsidi (APMS) meledak di perairan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), usai melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM).Tiga orang luka dan satu orang tewas di lokasi kejadian akibat luka bakar.

Berdasarkan keterangan, ledakan terjadi tak lama setelah kapal berlabel KM Satro Jaya berangkat dari Pelabuhan Banabungi menuju Wakatobi, pada Jumat petang. Kapal tersebut memuat 10 ton solar dan 15 ton premium.

Diduga, ledakan dipicu penguapan yang terjadi pada premium. “Mungkin terjadi penguapan pada premium,” kata Andi Zainal, seorang awak kapal yang berhasil selamat.

Dia melanjutkan, karena terbuat dari kayu, badan kapal langsung berserakan begitu terjadi ledakan. Drum dan jeriken berisi bahan bakar bersubsidi juga terapung-apung di laut sekitar tempat kejadian.

Ledakan itupun mengundang perhatian warga karena suaranya terdengar hingga radius empat kilometer. Dalam waktu singkat, lokasi kejadian sudah ramai.

Sebagian warga membantu evakuasi tiga korban luka, sementara satu awak kapal tewas langsung dibawa ke RSUD Buton. Mereka juga menyelamatkan sisa bbm yang terapung di luat.

SUMBER: okezonenews

Sabtu, 02 Februari 2013

Kenaikan tarif listrik naikkan harga rumah



 9F 19 MELIANA IRFANI


Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan penerapan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), mendorong peningkatan harga rumah non subsidi secara menyeluruh sebesar 10 persen.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Edi Ganefo mengatakan imbas dari kenaikan tarif listrik akan mulai dirasakan konsumen sektor perumahan. Akan tetapi pihaknya berharap hal tersebut tidak mengagetkan konsumen serta pihak lain.

Dia memastikan untuk harga rumah subsidi tidak akan mengalami kenaikan. "Untuk rumah subsidi tergantung pemerintah kami tidak bisa menaikkan," ungkapnya di Jakarta, akhir pekan ini.

Hari ini, PT Bank Tabungan Negara (BTN) menyelenggarakan pameran perumahan di Hall A dan B Jakarta Convention Center (JCC). Pameran akan berlangsung dari 2 Februari sampai 10 Februari 2013 mendatang. Ajang ini diharapkan memperoleh dana sebesar Rp 1 triliun dengan jumlah pengunjung sebanyak 150 ribu.


sumber : Merdeka.com