Tampilkan postingan dengan label vitamin c. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vitamin c. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Vitamin C Tomat Organik Lebih Tinggi


                                                                                                   9A10 HANIFAH


Tanaman tomat yang ditanam dengan cara organik ternyata mengandung vitamin C lebih tinggi dibandingkan varietas lain yang ditanam secara konvensional.

Dalam penelitian di Brasil disebutkan, tomat organik memang lebih kecil, tetapi kadar vitamin C-nya dan phenol-nya lebih tinggi. Phenol adalah zat yang bertindak sebagai antioksidan.

Hasil penelitian tersebut kontradiktif dengan studi yang dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicines yang menyebutkan tidak ada perbedaan kadar vitamin antara makanan organik dan makanan konvensional. Kesimpulan itu berdasarkan studi yang menganalisis 200 penelitian.

Namun, pada tahun 2011 sebuah penelitian menyimpulkan bahwa tanaman organik memang memiliki kadar vitamin C dan phenol yang tinggi, tetapi kadar proteinnya lebih rendah.

Tim peneliti juga belum menemukan bukti bahwa perbedaan nutrisi dalam produk organik dan non-organik bisa diterjemahkan sebagai manfaat kesehatan lebih tinggi.

Para konsumen sendiri memilih produk organik karena berbagai alasan, tidak cuma kandungan nutrisi. Alasan kadar pestisida lebih rendah serta ramah lingkungan banyak menjadi pertimbangan.

Tim peneliti dari Brasil menyebutkan, tanaman organik mengandung kadar nutrisi lebih tinggi karena tanaman itu ditumbuhkan dalam kondisi "penuh tekanan". Tanaman merespons tekanan tersebut untuk meningkatkan produksi kandungannya, termasuk phenol.

Salah satu contoh "sumber stres" tanaman organik adalah penggunaan pupuk. Tanaman organik harus ditumbuhkan menggunakan pupuk organik sehingga pengeluaran nitrogen lebih lambat dibanding pupuk kimia. Padahal, tanaman membutuhkan nitrogen sehingga tanaman menjadi stres.

Harry Klee, profesor di bidang ilmu hortikultura, mengatakan, tanaman tomat dalam penelitian itu mungkin mengandung nutrisi lebih tinggi karena ukurannya kecil.


Sumber: Live Science. Kompas.com


                                                                                                   9A10 HANIFAH


Tanaman tomat yang ditanam dengan cara organik ternyata mengandung vitamin C lebih tinggi dibandingkan varietas lain yang ditanam secara konvensional.

Dalam penelitian di Brasil disebutkan, tomat organik memang lebih kecil, tetapi kadar vitamin C-nya dan phenol-nya lebih tinggi. Phenol adalah zat yang bertindak sebagai antioksidan.

Hasil penelitian tersebut kontradiktif dengan studi yang dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicines yang menyebutkan tidak ada perbedaan kadar vitamin antara makanan organik dan makanan konvensional. Kesimpulan itu berdasarkan studi yang menganalisis 200 penelitian.

Namun, pada tahun 2011 sebuah penelitian menyimpulkan bahwa tanaman organik memang memiliki kadar vitamin C dan phenol yang tinggi, tetapi kadar proteinnya lebih rendah.

Tim peneliti juga belum menemukan bukti bahwa perbedaan nutrisi dalam produk organik dan non-organik bisa diterjemahkan sebagai manfaat kesehatan lebih tinggi.

Para konsumen sendiri memilih produk organik karena berbagai alasan, tidak cuma kandungan nutrisi. Alasan kadar pestisida lebih rendah serta ramah lingkungan banyak menjadi pertimbangan.

Tim peneliti dari Brasil menyebutkan, tanaman organik mengandung kadar nutrisi lebih tinggi karena tanaman itu ditumbuhkan dalam kondisi "penuh tekanan". Tanaman merespons tekanan tersebut untuk meningkatkan produksi kandungannya, termasuk phenol.

Salah satu contoh "sumber stres" tanaman organik adalah penggunaan pupuk. Tanaman organik harus ditumbuhkan menggunakan pupuk organik sehingga pengeluaran nitrogen lebih lambat dibanding pupuk kimia. Padahal, tanaman membutuhkan nitrogen sehingga tanaman menjadi stres.

Harry Klee, profesor di bidang ilmu hortikultura, mengatakan, tanaman tomat dalam penelitian itu mungkin mengandung nutrisi lebih tinggi karena ukurannya kecil.


Sumber: Live Science. Kompas.com

Jumat, 15 Februari 2013

Kekurangan Vitamin C Dapat Menimbulkan Neurologis Otak


9D 18 LIDIYANI

Vitamin C adalah nutrisi yang fungsinya cukup krusial bagi tubuh, karena vitamin C punya banyak manfaat kesehatan seperti meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah flu. Kurangnya vitamin C telah dikaitkan oleh berbagai penyakit dan masalah kesehatan.

Penyakit yang paling umum terjadi akibat kekurangan vitamin C adalah penyakit kudis yang terjadi karena tubuh kekurangan kolagen sebagai akibat rendahnya kadar vitamin C. Para peneliti juga telah mempelajari kaitan antara desifiensi vitamin C dengan masalah neurologis.

Penelitian tersebut dilakukan di Vanderbilt University Medical Center dan hasilnya dicatat dalam Journal of Neurochemistry edisi bulan Oktober 2012, seperti dilansir naturalnews, Selasa (18/12/2012).

Peneliti menggunakan pengujian terhadap tikus yang secara genetik telah direkayasa untuk menonaktifkan gen yang biasanya mengatur asupan vitamin C. Tikus-tikus tersebut dapat hidup sehat kembali setelah mendapat asupan vitamin C dengan asam askorbat (AA) secara ekstrenal.

Tetapi untuk keperluan studi ini, peneliti menciptakan periode dimana peneliti terlambat untuk memberikan AA pada tikus. Sebelum dan sesudah periode tersebut, peneliti mengambil sampel darah dan mengamati pola perilakunya. Pada awal berkurangnya AA dalam tubuh, tikus mengalami depresi dan dorongan perilaku yang kuat untuk mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung glukosa.

Setelah tikus benar-benar kehilangan AA untuk kedua kalinya, sampel darah tikus menunjukkan penurunan kadar glukosa darah, kerusakan oksidatif lipid dan protein dalam korteks, dan penurunan metabolit dopamin dan serotonin di kedua korteks dan striatum otak. Dengan kata lain hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan neurologis.

Masalah neurologis, fisiologis dan psikologis yang ekstrim akibat kekurangan vitamin C tersebut berangsur-angsur membaik setelah kebutuhan vitamin C terpenuhi dengan meningkatkan asupannya. Obat yang paling sederhana adalah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin C antara lain jeruk, lemon, limau, kubis, kembang kol, asparagus, brokoli dan lainnya.

Selain hal tersebut di atas, tubuh yang kekurangan vitamin C juga dapat ditandai oleh gejala sebagai berikut:

1. Kekurangan energi yang kronis, kelemahan dan depresi
Kekurangan vitamin C bahkan juga dapat mempengaruhi kekuatan tulang. Tingkat vitamin C yang rendah juga dapat menyebabkan penurunan berat badan secara drastis.

2. Pendarahan gusi, gigi tanggal, atau gingivitis
Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan kolagen yang diperlukan untuk membangun dan memelihara jaringan gigi dan gusi. Vitamin C sangat diperlukan oleh tubuh untuk mensintesis kolagen.

3. Perubahan suasana hati
Orang yang kekurangan vitamin C, moodnya mudah sekali berubah-ubah, gampang emosi, dan mudah marah.

4. Kulit memar
Kulit yang mudah memar dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, bisa menjadi indikasi kekurangan vitamin C. Lambatnya penyembuhan luka ringan secara alami oleh tubuh juga menunjukkan bahwa kadar vitamin C dalam tubuh kurang memadai.

5. Nyeri sendi
Nyeri sendi atau tungkai yang kronis merupakan tanda-tanda kain yang mengindikasikan bahwa tubuh kekurangan vitamin C. Kadang-kadang penyakit kudis yang parah juga dapat menyebabkan pendarahan di dalam sendi dan menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.

6. Anemia
Anemia adalah tanda lain dari kemungkinan kekurangan vitamin C. Orang yang kekurangan vitamin C juga gampang jatuh sakit karena sistem kekebalan tubuhnya melemah.

Kekurangan Vitamin C Dapat Menimbulkan Neurologis Otak


9D 18 LIDIYANI

Vitamin C adalah nutrisi yang fungsinya cukup krusial bagi tubuh, karena vitamin C punya banyak manfaat kesehatan seperti meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah flu. Kurangnya vitamin C telah dikaitkan oleh berbagai penyakit dan masalah kesehatan.

Penyakit yang paling umum terjadi akibat kekurangan vitamin C adalah penyakit kudis yang terjadi karena tubuh kekurangan kolagen sebagai akibat rendahnya kadar vitamin C. Para peneliti juga telah mempelajari kaitan antara desifiensi vitamin C dengan masalah neurologis.

Penelitian tersebut dilakukan di Vanderbilt University Medical Center dan hasilnya dicatat dalam Journal of Neurochemistry edisi bulan Oktober 2012, seperti dilansir naturalnews, Selasa (18/12/2012).

Peneliti menggunakan pengujian terhadap tikus yang secara genetik telah direkayasa untuk menonaktifkan gen yang biasanya mengatur asupan vitamin C. Tikus-tikus tersebut dapat hidup sehat kembali setelah mendapat asupan vitamin C dengan asam askorbat (AA) secara ekstrenal.

Tetapi untuk keperluan studi ini, peneliti menciptakan periode dimana peneliti terlambat untuk memberikan AA pada tikus. Sebelum dan sesudah periode tersebut, peneliti mengambil sampel darah dan mengamati pola perilakunya. Pada awal berkurangnya AA dalam tubuh, tikus mengalami depresi dan dorongan perilaku yang kuat untuk mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung glukosa.

Setelah tikus benar-benar kehilangan AA untuk kedua kalinya, sampel darah tikus menunjukkan penurunan kadar glukosa darah, kerusakan oksidatif lipid dan protein dalam korteks, dan penurunan metabolit dopamin dan serotonin di kedua korteks dan striatum otak. Dengan kata lain hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan neurologis.

Masalah neurologis, fisiologis dan psikologis yang ekstrim akibat kekurangan vitamin C tersebut berangsur-angsur membaik setelah kebutuhan vitamin C terpenuhi dengan meningkatkan asupannya. Obat yang paling sederhana adalah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin C antara lain jeruk, lemon, limau, kubis, kembang kol, asparagus, brokoli dan lainnya.

Selain hal tersebut di atas, tubuh yang kekurangan vitamin C juga dapat ditandai oleh gejala sebagai berikut:

1. Kekurangan energi yang kronis, kelemahan dan depresi
Kekurangan vitamin C bahkan juga dapat mempengaruhi kekuatan tulang. Tingkat vitamin C yang rendah juga dapat menyebabkan penurunan berat badan secara drastis.

2. Pendarahan gusi, gigi tanggal, atau gingivitis
Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan kolagen yang diperlukan untuk membangun dan memelihara jaringan gigi dan gusi. Vitamin C sangat diperlukan oleh tubuh untuk mensintesis kolagen.

3. Perubahan suasana hati
Orang yang kekurangan vitamin C, moodnya mudah sekali berubah-ubah, gampang emosi, dan mudah marah.

4. Kulit memar
Kulit yang mudah memar dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, bisa menjadi indikasi kekurangan vitamin C. Lambatnya penyembuhan luka ringan secara alami oleh tubuh juga menunjukkan bahwa kadar vitamin C dalam tubuh kurang memadai.

5. Nyeri sendi
Nyeri sendi atau tungkai yang kronis merupakan tanda-tanda kain yang mengindikasikan bahwa tubuh kekurangan vitamin C. Kadang-kadang penyakit kudis yang parah juga dapat menyebabkan pendarahan di dalam sendi dan menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.

6. Anemia
Anemia adalah tanda lain dari kemungkinan kekurangan vitamin C. Orang yang kekurangan vitamin C juga gampang jatuh sakit karena sistem kekebalan tubuhnya melemah.

Rabu, 06 Februari 2013

Overdosis Suplemen Vitamin C Tingkatkan Risiko Batu Ginjal pada Pria






9C31 SITI NURAENI

Jakarta, Vitamin C merupakan nutrisi yang diperlukan tubuh untuk kepentingan pertumbuhan, pemulihan dan menangkal radika bebas penyebab penuaan dini. Akan tetapi, konsumsi berlebihan dari suplemen vitamin C mungkin memiliki efek negatif terhadap kesehatan ginjal.

Vitamin C merupakan antioksidan kuat dan nutrisi yang diperlukan untuk fungsi tubuh banyak, termasuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, penyerapan zat besi, mendukung sistem kekebalan tubuh, membantu dengan penyembuhan luka, dan menjaga kesehatan tulang, antara tugas-tugas penting lainnya.

Namun terlalu banyak vitamin C dalam bentuk suplemen mungkin berbahaya. Cara yang paling sehat untuk mendapatkan vitamin C yang Anda butuhkan adalah melalui makanan, seperti buah-buahan segar dan sayuran.

Tampaknya kadar vitamin C yang terlalu tinggi dari suplemen dapat mengubah asam dalam tubuh dan menyebabkan batu ginjal serta masalah kesehatan lainnya. Para ilmuwan dari Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia melakukan studi mengenai hal ini selama 11 tahun yang melibatkan 48.850 pria usia 45 sampai 79 tahun.

Dari sekian banyaknya peserta studi tersebut, sekitar 436 pria mengembangkan batu ginjal. Peneliti juga menginvestigasi peserta yang telah mengambil suplemen vitamin C dan bukan suplemen yang lain. Sedangkan sebagai perbandingan, para peneliti juga mengulangi evaluasinya menggunakan data dari peserta yang telah mengambil multivitamin.

Hasilnya menunjukkan bahwa pria yang mengambil dosis tinggi asam askorbat (vitamin C) hingga sekitar 1.000 miligram setiap hari memiliki risiko 2 kali lipat lebih tinggi terhadap batu ginjal.

"Temuan ini tidak dapat digeneralisasikan untuk wanita, karena umumnya pria lebih berisiko mengembangkan batu ginjal dibanding wanita," kata Laura D.K. Thomas, MSc, pemimpin penelitian tersebut, seperti dilansirEmaxhealth, Rabu (6/2/2013).

Para penulis studi mencatat bahwa pria yang menggunakan multivitamin tidak menunjukkan peningkatan risiko yang sama terhadap batu ginjal. Sedangkan peningkatan risiko hanya terjadi pada peserta yang mengambil dosis tinggi vitamin C.

Vitamin C adalah vitamin yang larut air, yang berarti mudah larut dan tidak disimpan dalam tubuh, serta cepat dieliminasi dari tubuh melalui urin. Jadi, vitamin C ini harus diganti secara teratur. Kebutuhan harian vitamin C yang direkomendasikan adalah sekitar 75 mg untuk wanita yang tidak merokok dan 90 mg untuk pria yang tidak merokok.

Baik pria maupun wanita harus menambahkan 35 mg ekstra vitamin C per hari jika merokok. Tingkat asupan vitamin C yang ditoleransi untuk orang dewasa adalah sekitar 2.000 mg per hari dan kebanyakan orang tidak mengalami efek samping langsung jika terlalu banyak mengonsumsi vitamin C.

Tetapi beberapa orang mungkin mengembangkan gejala seperti rasa tidak nyaman di perut, mual, muntah, diare, dan lebih sering buang air kecil ketika mengambil vitamin C sebanyak 500 mg sampai 1.000 mg atau lebih sehari.

Bagi beberapa orang yang lebih sensitif, terlalu banyak mengonsumsi vitamin C bisa menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius, antara lain:

1. Masalah ginjal
Selain peningkatan risiko batu ginjal yang dijelaskan dalam studi di atas, overdosis vitamin C juga meningkatkan risiko masalah ginjal yang lain. Konsumsi suplemen vitamin C tingkat tinggi dapat meningkatkan kadar oksalat dalam urin dan menghasilkan batu ginjal kalsium oksalat, jenis yang paling umum dari batu ginjal.

Oksalat ditemukan secara alami dalam buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan coklat, dan juga diproduksi oleh hati.

2. Alergi
Siapapun yang memiliki alergi jagung harus memeriksa apakah suplemen vitamin C yang dikonsumsinya, karena beberapa suplemen vitamin C terbuat dari jagung.

3. Penyakit jantung pada wanita
Suplemen vitamin C mungkin berbahaya bagi beberapa wanita, terutama wanita postmenopause yang menderita diabetes. Sebuah studi terhadap lebih dari 1.900 wanita pascamenopause dengan diabetes menemukan bahwa wanita yang memiliki asupan vitamin C tertinggi (lebih dari 300 mg per hari) dari suplemen (bukan dari makanan) memiliki peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler.

4. Efek pengencer darah
Dosis tinggi vitamin C dapat mengencerkan darah karena memiliki sifat antikoagulan seperti warfarin. Siapapun yang telah diresepkan untuk mengambil obat pengencer darah harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil suplemen vitamin C.

5. Diabetes
Mengambil dosis tinggi vitamin C dapat berdampak pada kadar glukosa darah pada pasien diabetes dan dengan demikian mempengaruhi kebutuhannya untuk obat antidiabetes. Jika Anda memiliki diabetes, Anda harus berbicara dengan dokter sebelum mengambil suplemen vitamin C.

6. Kondisi kesehatan lainnya
Siapapun yang memiliki kondisi medis yang terkait dengan pemuatan asam, seperti asam urat, sirosis, hemoglobinuria nokturnal paroksismal, atau asidosis tubulus ginjal harus berkonsultasi dahulu dengan dokter sebelum mengambil dosis tinggi vitamin C.