Tampilkan postingan dengan label leher. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leher. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Amandel (Tonsilitis)

9D07 DINI LISDAYANTI

Amandel merupakan infeksi (radang) tonsil (amandel) yang disebabkan virus. Biasanya diderita anak usia 5-15 tahun. Berdasar lama terjangkiti, amandel dibedakan menjadi 2; amandel akut dan amandel kronis. Disebut amandel akut jika penyakit berlangsung kurang dari 3 minggu dan amandel kronis jika terjadi 7 kali atau lebih dalam setahun, atau lima kali selama dua tahun, tiga kali setahun secara berturut-turut.


Amandel (tonsil) disebabkan oleh infeksi, virus, flu berulang, serta radang tenggorokan. Jika terjadi hal seperti itu maka amandel akan membesar. 
Gejala amandel antara lain; penderita merasa tegorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher), nyeri saat menelan (nelan ludah atau makanan dan minuman) sehingga menjadi malas makan, nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga.

Gejala lain berupa demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri perut, pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher. Terkadang penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan rongga hidung).

Gejala tersebut dapat diketahui jika si penderita melakukan pemeriksaan. Pada saat pemeriksaan, dijumpai pembesaran tonsil (amandel), berwarna merah, kadang dijumpai bercak putih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah yang menandakan peradangan di sekitar tonsil dan tenggorokan.


Tidak ada cara khusus mencegah amandel. Namun beberapa tips di bawah ini membantu untuk menghindarkan diri dari amandel;
1. Mencuci tangan sesering mungkin mencegah penyebaran mikro-organisme yang dapat menimbulkan tonsilitis.
2. Menghindari kontak dengan penderita infeksi tanggorokan, setidaknya hingga 24 jam setelah penderita infeksi tenggorokan (yang disebabkan kuman) mendapatkan antibiotika.
sumber: detik

Jumat, 15 Februari 2013

Jangan Pernah Remehkan Migran


9H33 SULASTRI

Migrain atau sakit kepala sebelah seringkali dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal migrain ini juga bisa menjadi tanda ada sesuatu yang serius di dalam tubuh. Kapan sinyal tersebut patut diketahui?

Migrain adalah sakit kepala berdenyut yang seringkali terjadi hanya pada satu sisi kepala saja. Namun gejala yang muncul bisa bervariasi pada masing-masing orang dan kadang tidak sama antara satu serangan dengan serangan berikutnya.

Biasanya jika orang sudah terbiasa migrain, ia tidak menyadari apabila gejalanya makin memburuk. Jika diamati, perubahan pola atau sakit kepala yang terasa berbeda bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius.

Jika mengalami salah satu dari gejala berikut ini, bisa jadi migrain yang dirasakan sudah serius, sebaiknya segera hubungi dokter, seperti dikutip dari CNNHealth, yaitu:

1. Sakit kepala yang datang secara tiba-tiba (kadang digambarkan seperti petir yang menyambar) dan berbeda dari migrain biasanya, bahkan kadang terasa seperti serangan migrain terburuk yang pernah dirasakan.

2. Migrain dan sakit kepala disertai dengan demam, leher terasa kaku, adanya ruam di kulit, kebingungan, penglihatan menjadi ganda, mati rasa di bagian tubuh atau kesulitan bicara.

3. Migrain yang dialami berhubungan dengan kejang-kejang.

4. Migrain yang terjadi setelah mengalami sakit tenggorokan atau penyakit pernapasan lain. Selama musim dingin dan flu yang mana sakit tenggorokan umum terjadi, migrain kadang lebih sering kambuh. Tanda peringatan biasanya ketika sakit tenggorokan hilang, tapi datang demam, leher kaku atau sakit kepala yang parah.

5. Migrain yang muncul setelah mengalami cedera kepala, terutama jika migrain ini terus memburuk dan intensitasnya makin sering.

6. Migrain kronis yang memburuk dan dipicu saat tubuh mengeluarkan tenaga berlebih seperti ketika batuk atau pindah tempat secara tiba-tiba.