Tampilkan postingan dengan label jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jantung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

Hati-hati! Kurang Minum Air Bisa Picu Sakit Jantung

9D07 DINI LISDAYANTI

Dehidrasi biasanya disebabkan karena seseorang kurang minum air. Gejala paling khas ditandai dengan rasa haus dan tubuh yang lemas. Tak hanya sebatas itu, lebih parah tubuh yang kekurangan cairan juga bisa memicu timbulnya gangguan jantung.

"Dehidrasi bisa memicu gangguan jantung. Jadi kelebihan air bisa menyebabkan gangguan jantung, kekurangan juga bisa memicu gangguan jantung," jelas Dr. dr. Luciana B Sutanto, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik dari RSCM, dalam acara Seminar Media 'Air Bisa Cegah Dehidrasi (ABCD) harus dimulai dari bangku sekolah' di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Dr Luci menjelaskan, ketika tubuh kekurangan cairan, darah akan menjadi lebih kental. Padahal, darah harus dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh. Nah, bila cairan di darah tidak cukup akibatnya jantung akan bekerja ekstra, yang artinya membebani kerja jantung.

Kondisi ini akan menjadi lebih parah pada orang-orang yang jantungnya sudah mengalami banyak sumbatan atau pada orang lanjut usia yang fungsi jantungnya sudah mulai menurun.

Selain harus bekerja memompa darah, lanjut Dr Luci, si jantung juga butuh bekerja untuk dirinya sendiri. Kalau organ ini bekerja terlampau kuat, akhirnya akan lelah dan pembuluh darah menyempit.

"Jantungnya jadi ngambek. Kalau orang sudah punya sakit jantung akan jadi lebih parah," imbuh wanita kelahiran Yogyakarta, 6 November 1965 ini.

Tak hanya karena kurang minum air, pada orang-orang tertentu kebanyakan minum air juga dapat mengganggu kerja jantung, terutama pada orang dengan penyakit ginjal dan jantung

"Kelebihan air bahaya untuk orang dengan penyakit ginjal dan jantung. Kalau ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik, urine yang keluar menjadi lebih sedikit. Kalau dia minum banyak air, akibatnya air akan menumpuk di dalam tubuh dan bisa membebani kerja jantung," tutur Dr Luci.
sumber: detik

Cegah PMS dengan Konsumsi Bayam dan Tempe


9D27 RIZKI AMALIYAH 

Meski tampak sepele, sindrom pramenstruasi (PMS) membuat wanita atau orang di sekelilingnya merasa tak nyaman. Mudah marah dan merasa kelelahan biasa dialami sekitar dua minggu sebelum haid. Ternyata, kondisi ini bisa dicegah dengan mengonsumsi sayuran yang tinggi zat besi.

Peneliti dari University of Massachusetts dan Harvard meneliti 3.000 wanita yang bebas dari gejala PMS di awal studi. Para peserta mengisi kuesioner frekuensi makanan selama 10 tahun. Di akhir penelitian, 1.057 wanita didiagnosis mengalami PMS, sementara 1.968 wanita bebas gejala PMS.

Dalam American Journal of Epidemiology, ditemukan bahwa wanita yang mengonsumsi zat besi non-heme (berasal dari sumber nabati) paling banyak, 40% lebih rendah risikonya mengalami PMS. Peneliti yakin bahwa zat besi terlibat dalam produksi serotonin, zat kimia yang membantu mengatur mood.

"Wanita yang berisiko PMS sebaiknya memastikan mereka memenuhi anjuran harian zat besi non-heme dan zinc," ujar Dr Elizabeth Bertone-Johnson, peneliti senior dalam studi ini, seperti diberitakan Daily Mail (27/02/13). Zat besi jenis ini dapat diperoleh dari mengonsumsi tahu, tempe, bayam, sereal, dan beragam jenis polong-polongan.

Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa tingkat asupan zat besi pada wanita yang rendah risiko PMSnya adalah sekitar 20 mg per hari. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding anjuran zat besi harian bagi wanita usia menjelang menopause, yakni 18 mg per hari.

Bagaimanapun juga, Bertone-Johnson mengingatkan, asupan zat besi berlebihan bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Zat besi yang menumpuk di jaringan organ selama bertahun-tahun dapat menimbulkanhemochromatosis. Jika sudah serius, kondisi ini bisa menyebabkan diabetes, kanker hati, arthritis, dan gagal jantung.

"Wanita sebaiknya menghindari konsumsi zat besi melebihi kadar yang diperbolehkan, yakni 45 mg per hari, kecuali jika disarankan oleh dokter," kata Bertone-Johnson.

sumber:detik

Jumat, 15 Februari 2013

Alkohol Sebabkan 1 dari 30 Kematian Kanker


ADE AAN ANIYATI 9C 01

Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol terkait dengan setiap 1 dari 30 kematian akibat kanker di Amerika Serikat. Kaitan tersebut tampak nyata pada kasus kanker payudara.

Sekitar 15 persen kematian akibat kanker payudara diketahui terkait dengan konsumsi alkohol.

"Alkohol sebenarnya merupakan agen penyebab kanker tetapi tidak begitu kentara karena orang tak menyadarinya," kata Dr.David Nelson, direktur Cancer Prevention Fellowship Program.

Orang yang sering mengonsumsi alkohol beresiko tinggi terkena kanker. Meski begitu tidak ada batasan aman untuk menggunakan alkohol, termasuk orang yang minum dalam jumlah sedang yang selama ini dinilai bermanfaat untuk jantung.

"Sebaiknya orang yang memahami mereka beresiko kanker mulai mengurangi konsumsi alkoholnya. Makin sedikit, makin rendah risikonya," kata Nelson.

Untuk mengetahui kaitan antara minum alkohol dan kanker, Nelson dan timnya mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk survei nasional penggunaan alkohol.

Selain kanker payudara pada wanita, kanker mulut, tenggorokan dan esofagus adalah jenis kanker yang dikaitkan dengan konsumsi alkohol pada pria. Tiap tahunnya tercatat 6000 kematian akibat kanker tersebut.

Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa hobi menenggak alkohol adalah faktor risiko kanker mulut, tenggorokan, esofagus, liver, kolon, rektum, dan kanker payudara pada wanita.

Menurut para ahli dari the American Cancer Society, belum jelas sepenuhnya bagaimana alkohol meningkatkan risiko kanker.

Alkohol diyakini bertindak seperti zat kimia yang iritan pada sel sensitif dan memicu kerusakan DNA. Selain itu alkohol juga bertindak seperti pelarut untuk karsinogen lain, misalnya yang ditemukan dalam rokok, sehingga zat karsinogen itu bisa masuk sel lebih mudah.

Alkohol juga diduga memengaruhi hormon-hormon penting, seperti estrogen sehingga meningkatkan risiko kanker payudara.

"Jika Anda bukan peminum alkohol, jangan memulainya. Namun jika Anda adalah peminum, mulailah membatasi," katanya.

Meski alkohol terbukti terkait dengan kanker, namun tembakau masih menjadi faktor kuat dalam kematian kanker. Setiap tahunnya 100.000 kematian karena kanker dipicu oleh kebiasaan merokok.

Sumber: kompas

Jumat, 08 Februari 2013

Kiat Aman Turun Berat Badan Anak Kegemukan

RUKHANIA ZEN 9D 28
Kegemukan pada anak balita jangan diabaikan karena akan memicu risiko penyakit jantung, diabetes, hingga kelainan otot. Meningkatkan aktivitas fisik dan membatasi asupan kalori bisa membantu anak mencapai berat badan idealnya.

Meski begitu anak tidak disarankan untuk melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan karena ia masih membutuhkan gizi dari beragam makanan untuk tumbuh kembangnya. Yang terpenting adalah membatasi asupan kalori, lemak, dan gula.

Untuk mengurangi asupan lemak, selain memberikan daging tanpa lemak Anda bisa mengganti susu yang dikonsumsi anak dengan susu rendah lemak. Menurut Astri Kurniati, Manager Nutrition and Health Science Departement Nutrifood Research Centre, susu rendah lemak sebaiknya hanya diberikan untuk anak usia dua tahun ke atas.

Astri menjelaskan, pada dasarnya susu rendah lemak atau susu tanpa lemak memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan susu biasa (whole milk). "Yang berbeda hanya kandungan kalori dan lemaknya," katanya dalam acara bertajuk Healthy Habits Since Young di Jakarta, Kamis (7/2/13).

Menurut penelitian terhadap anak di Jakarta diketahui konsumsi lemak anak balit di Jakarta melebihi yang dianjurkan. Idealnya, konsumsi makanan mengandung 50 persen karbohidrat, 20 persen protein, dan 30 persen lemak.

"Pada orang dewasa saja asupan lemak yang dianjurkan tidak lebih dari 55 gram perhari. Untuk anak seharusnya lebih sedikit dari itu. Sementara kandungan lemak dalam satu gelas susu full cream mencapai 8 gram. Kalau sehari ia minum 4 gelas susu berarti sudah 32 gram. Belum lagi dari makanan lain," paparnya.

Untuk mengatasi kegemukan pada balita, orangtua disarankan rutin memantau berat badan anak. Aktivitas fisik anak juga perlu ditambah, selain mengontrol dan menjaga keseimbangan makanan anak.
sumber: kompas