Minggu, 27 Januari 2013

Presiden Mesir Umumkan Negara Dalam Keadaan Darurat

9G29 RINI DEWINI

KAIRO, KOMPAS.com - Presiden Mesir, Mohammad Mursi, Minggu (27/1), mengumumkan keadaan darurat di tiga provinsi negara itu yang dilanda kerusuhan dan telah menyebabkan puluhan orang tewas. Mursi memperingatkan, ia siap mengambil langkah lanjutan guna menghadapi ancaman keamanan terhadap Mesir.

Sejumlah langkah darurat akan diberlakukan di Provinsi Port Said, Suez dan Ismailia "selama 30 hari yang dimulai pada tengah malam (Minggu waktu setempat)" kata Mursi  dalam sebuah pidato di televisi pemerintah pada Minggu malam.

Jam malam akan diberlakukan di tiga provinsi yang sama dari pukul 21.00 hingga 06.00, tambah Mursi. "Saya sudah katakan, saya menentang setiap tindakan darurat, tetapi saya juga telah mengatakan bahwa jika saya harus menghentikan pertumpahan darah dan melindungi rakyat maka saya akan bertindak," tegas Mursi.

Dia memperingatkan, dirinya siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika kekerasan mematikan yang melanda Mesir sejak Jumat tidak segera berakhir. "Jika saya harus, saya akan melakukan lebih banyak tindakan lagi demi Mesir. Ini tugas saya dan saya tidak akan ragu-ragu," kata dia.

Mursi mengajak pihak oposisi dan para pemimpin politik di Mesir untuk bertemu. Ia mengundang mereka untuk menghadiri dialog. Dia menambahkan dalam pidato singkatnya, "Tidak ada jalan kembali dalam kebebasan dan demokrasi. . . penegakan hukum dan keadilan sosial yang telah dirintis revolusi."

Pihak oposisi Mesir, Sabtu, telah mengancam akan memboikot pemilihan parlemen mendatang, jika Mursi tidak menemukan "penyelesaian menyeluruh" atas krisis yang melanda negara itu. Front Penyelamatan Nasional (NSF), koalisi partai-partai utama dan gerakan-gerakan yang menentang kelompok Islam yang berkuasa, menyerukan pembentukan pemerintah "keselamatan nasional", dan mengatakan bahwa selain itu pihaknya "tidak akan berpartisipasi dalam pemilihan parlemen berikutnya".

Pernyataan NSF itu terjadi saat Mursi menghadapi krisis terburuk sejak dia mengambilalih kekuasaan Juni lalu. Sabtu lalu bentrokan pecah di kota kanal Port Said yang menyebabkan sedikitnya 30 orang tewas. Unjuk rasa tersebut dipicu oleh vonis hukuman mati atas 21 orang sehubungan dengan kerusuhan dalam pertandingan sepakbola pada Februari 2012. Para pendukung terpidana berupaya untuk menyerbu penjara tempat mereka ditahan dan menyerang kantor polisi. Sebanyak 21 orang dijatuhi hukuman mati sehubungan dengan kerusuhan yang menewaskan 74 orang dalam pertandingan sepakbola di Port Said, tahun lalu.

NSF mengutuk kematian hari Sabtu itu yang mereka sebut sebagai "gelombang revolusioner baru" dan meminta rakyat Mesir untuk melakukan protes secara damai.

Pidato Mursi terjadi itu setelah kerusuhan di Port Said tersebut. Soal keputusan pengadilan di Port Said, Mursi menegaskan, putusan tersebut "harus dihormati oleh kita semua".

Mursi juga mengatakan, ia telah menginstruksikan kementerian dalam negeri untuk "menggunakan semua kekuatan yang menentukan terhadap mereka yang menyerang keamanan rakyat, gedung-gedung pemerintah, mereka yang menggunakan senjata, menutup jalan (dan) mereka yang melemparkan batu kepada orang tak berdosa''.

Kerusuhan juga meletus di Suez hari Minggu. Di sana para demonstran mengepung sebuah kantor polisi, melemparkan bom molotov ke pasukan keamanan dan memblokir jalan menuju ke Kairo, kata beberapa pejabat keamanan.

Sementara di Kairo, bentrokan pecah antara polisi dan pengunjuk rasa yang menuduh Mursi telah mengkhianati tujuan revolusi yang sukses menggulingkan diktator Husni Mubarak dua tahun lalu. Serangkaian peristiwa itu menunjukkan adanya perpecahan politik yang mendalam di negara itu.

Sumber: KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar