Jumat, 01 Maret 2013

CHINA,MALAYSIA, DAN INDIA TUMPUAN RI TEKAN DEFISIT PERDAGANGAN


China, Malaysia, dan India Tumpuan RI Tekan Defisit Perdagangan


9H10 DELLA OCTAVYANI
 China, Malaysia, dan India Tumpuan RI Tekan Defisit Perdagangan



Jakarta : Pemerintah tengah berupaya memperbesar ekspor ke pasar non tradisional untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. Harga komoditas di pasar dunia hingga kini masih mengalami tekanan akibat perlambatan ekonomi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan, pihaknya sedang bekerja keras untuk meningkatkan ekspor melalui jalur pasar non tradisional, seperti negara China, Malaysia, India dan sebagainya.

"Dunia sedang mengalami penekanan terhadap harga komoditas. Bukan karena barang Indonesia tidak laku di pasaran. Selain itu juga meningkatnya impor migas, sedangkan non migas sudah surplus meski nilainya terus menurun," kata Hatta di Jakarta, Jumat (1/3/2013).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih membukukan defisit neraca perdagangan sebesar US$ 171 juta pada Januari 2013. Kondisi tersebut terjadi akibat nilai impor sebesar US$ 15,55 miliar atau melebihi ekspor senilai US$ 15,38 miliar.

"Ekspor migas sebesar US$ 2,61 miliar kurang dari impor US$ 4,04 miliar. Dan impor non migas US$ 11,51 miliar surplus dari ekspor yang menembus US$ 12,76 miliar," ungkap Suryamin, Kepala BPS di tempat terpisah.

Hatta menjelaskan, pemerintah akan menjadikan program memperbesar pasar non tradisional sebagai agenda penting di 2013. Langkah ini diharapkan bisa menciptakan keseimbangan primer dan menjaga neraca pembayaran agar tetap berada di level positif. "Juga diimbangi dengan transaksi modal dan transaksi keuangan," jelasnya.

Pada bulan pertama tahun ini, ekspor Indonesia ke China tercatat sebesar US$ 1,49 miliar, sedangkan ke India mencapai US$ 1,32 miliar.

Senada dengan Hatta, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Armida Alisjahbana, menyatakan pihaknya konsisten dalam mengembangkan pasar non tradisional atau non migas.

"Kami sudah melakukan pengembangan ini sejak 7 tahun lalu di luar pasar tradisional yakni Jepang, Amerika, Singapura dan Eropa," paparnya.

Langkah ini diklaim Armida cukup berhasil. Terlihat dari porsi ekspor ke pasar non tradisional yang telah merangkak naik menjadi 60% dari porsi 45% pada tahun lalu. Sedangkan pasar tradisional mencapai 40%.

"Ekspor sangat dipengaruhi ekonomi China dan India. Namun kami optimistis di 2013 akan menunjukkan tanda-tanda perbaikan asalkan konsisten melakukan hal ini, terlebih kalau ditambah pasar Afrika dan Nigeria," tambah Armida. (Fik/Shd)
sumber: liputan6.com

0 komentar:

Poskan Komentar