Jumat, 01 Maret 2013

Berharap Panen Buah Melimpah dengan Ritual Mattammu



9B27 NITA ANITA.POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com -- Untuk menyambut datangnya musim bunga dan buah, warga Dusun Erang Batu, Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Jumat (1/3/2013) menggelar ritual Mattammu atau menyambut bunga dan buah.

Tokoh adat Desa Batetangnga, Hasan Dalle mengungkapkan, tradisi tahunan ini sebagai persembahan doa kepada Tuhan agar bunga dan buah-buah yang menjadi sumber mata pencaharian mereka tahun ini bisa melimpah.

Selain itu, kata Hasan, ritual ini juga bermakna sebagai bentuk pengukuhkan atau penyatuan hubungan harmonisasi antarmanusia dan alam sebagai penopang kehidupan mereka.

"Tradisi ini merupakan bentuk doa menyambut bunga dan buah, sekaligus bentuk penyatuan atau harmonisasi alam dan manusia," beber Hasan.

Warga Binuang sebagian besar adalah petani buah-buahan seperti durian, duku atau langsat, mangga dan rambutan. Mereka sedang menghadapi puncak musim panen pada pertengahan Maret bulan ini. Ritual Mattammu merupakan simbol doa dan penyatuan alam dan manusia.

Dalam pantauan Kompas.com, ritual ini didahulu dengan membakar lammang atau nasi ketan dicampur santan murni dalam bambu, kemudian dibakar hingga matang. Setelah itu, lammang dipotong kecil-kecil. Sebelum disantap, sejumlah tokoh adat atau tokoh agama menggelar doa di tengah kebun buah.

Proses ritual Mattammu, lanjut Hasan, biasanya digelar di puncak gunung, terutama di tengah-tengah lahan buah milik warga di sebuah dusun atau desa. Setiap keluarga menyumbangkan beras ketan dan kelapa dan ikan. Beras, kelapa dan ikan hasil sumbangan warga secara berkelompok ini kemudian dimasak bersama-sama.

Saat ritual ini berlangsung, tidak diperkenankan ada darah yang menetes. Karena itulah saat ritual ini berlangsung, warga dilarang memotong ayam, kambing atau binatang lain.

Ritual ini diyakini membawa berkah bagi para petani desa tersebut. Hasan menyebutkan, pada tahun sebelumnya, para petani buah durian, rambutan dan duku di wilayah ini bisa meraup untung dari hasil penjualan buah hingga jutaaan rupiah, per sekali musim panen.

Misalnya, buah durian biasanya dijual paling murah Rp 10 ribu per biji. Setiap satu pohon durian, umumnya petani mendapatkan keuntungan hasil penjualan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Bisa dibayangkan jika dalam satu hektar ada 50 pohon durian saja, berarti pendapatan petani bisa mencapai puluhan juta rupiah.

"Ini baru buah durian, belum termasuk buah rambutan dan duku yang biasanya berbuah secara bersamaan setiap tahunnya," jelas Hasan.

Umumnya, menurut Hasan, petani di desa ini memiliki kebun buah satu hingga tiga hektar. Para petani yang menggantungkan hidup mereka sebagai petani buah, berharap, musim bunga dan buah tahun ini hasilnya melimpah. 

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/03/01/19132952/Berharap.Panen.Buah.Melimpah.dengan.Ritual.Mattammu

0 komentar:

Poskan Komentar