Sabtu, 02 Maret 2013

Pengendalian Penyakit pada Sapi Potong

Penyakit pada Sapi Potong
Penyakit merupakan hal yang sangat merugikan dalam usaha ternak sapi potong, baik usaha pembibitan maupun penggemukkan. Oleh karena itu usaha pencegahan dan pengendalian penyakit sangat diperlukan agar sapi yang dipelihara tetap sehat.
Tanda-tanda sapi sehat adalah sebagi berikut:
  • Nafsu makan besar dan agakrakus
  • Minum teratur (kurang leibih 8 kali sehari)
  • Mata merah, jernih dan tajam, hidung bersih, memamah biak bila istirahat
  • Kotoran normal dan tidak berubah dari hari kehari
  • Telinga sering digerakkan, kaki kuat, mulut basah
  • Temperatur tubuh normal (38,5-39) C dan lincah
  • Jarak/siklus berahi ternak teratur (terutama sapi betina/induk)
Tanda-tanda sapi sakit adalah:
  • Mata suram, cekung, mengantuk, telinga terkulai
  • Nafsu makan berkurang, minumnya sedikit dan lambat
  • Kotoran sedikit, ,mungkin diare atau kering dan keras
  • Badan panas, detak jantung dan pernapasan tidak normal
  • Badan menyusut, berjalan sempoyongan
  • Kulit tidak elastis, bulu kusut, mulut dan hidung kering
  • Temperatur tubuh naik-turun
Dalam peternakan sapi potong ada berbagai macam jenis penyakit, baik itu yang disebabkan manajemen yang kurang baik, bakteri, virus, parasit dan agen penyebab penyakit yang lain.

2.1.1. Penyakit Antrax (Radang Limpa)
Penyakit ini tergolong zoonosis disebabkan oleh bakteri Basillus anthracis. Kuman Antrax dapat membentuk spora dan tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, bahan kimia dan desinfektan.
 Oleh sebab itu hewan yang mati karena Antrax dilarang untuk dilakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka peluang bagi organisme ini membentuk spora. Faktor yang mempercepat penularan penyakit ini adalah musim panas, kekurangan makanan dan keletihan.
Penularan dari hewan ke hewan terjadi lewat makanan dan minuman yang tercemar bakteri antrax. Infeksi pada hewan juga dapat berasal dari tanah yang tercemar spora Antrax. Bakteri Antrax masuk ke dalam tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara atau tertelan bersama makanan dan minuman. Penularan antrax ke manusia umumnya terjadi secara langsung yaitu kontak dengan hewan penderita melalui luka, atau bahan asal hewan seperti bulu yang terhirup melalui pernafasan dan melalui saluran pencernaan bagi orang yang memakan daging hewan penderita Antrax.
Gejala klinis yang dapat diamati pada hewan :
·         Umumnya bersifat akut dan per-akut disertai infeksi menyeluruh
·         Kematian mendadak
·         Demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi
·         lemah, ambruk
·         Diare
·         Peradangan pada Limpa
·         Perdarahan berwarna hitam pekat seperti teer dari
·         lubang–lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus,
·         pori-pori kulit)
·         Kesulitan bernafas
Gejala klinis pada manusia antara lain :
·       Antrax tipe kulit umumnya ditandai dengan lesi (semacam borok) yang khas dimulai dari bintil kecil berwarna merah, menimbulkan rasa gatal yang kemudian meluas dan terbentuk jaringan parut berwarna hitam
·         Pembengkakan kelenjar limfe regional
·         Infeksi menyeluruh dapat terjadi pada penyakit yangberlanjut
·    Antrax tipe pernafasan umumnya diikuti dengan gejala sesak di daerah dada yang disertai dengan kebiruan dan umumnya diikuti kematian dalam waktu 24 jam
Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Ternak
2.1.2. Septichaemia Epizootica (SE/Ngorok)
Penyebab penyakit ini adalah kuman Pastuerella multocida serotipe 6B dan 6 E, kuman ini suka hidup ditempat yang dingin dan lembab. Faktor pemicu terjadinya infeksi berupa; cekaman atau stess seperti terlalu banyak dipekerjakan, pemberian pakan yang berkualitas rendah, kandang yang penuh dan berdesakan, dan kondisi pengangkutan yang melelahkan pada ternak.
Penularan dari hewan sakit ke hewan yang sehat atau pembawa terjadi melalui kontak makanan dan minuman serta alat-alat tercemar ekskreta hewan penderita (air liur, urin dan feses). Kuman yang jatuh ke tanah, bila mendapatkan kondisi yang lembab dan dingin dapat berkembang dan menulari hewan ternak yang digembalakan di tempat tersebut.
Gejala Klinis yang dapat diamati :
·         Keluar air liur terus menerus
·         Kesulitan bernafas (ngorok)
·         Kondisi tubuh lemah dan lesu
·         Suhu tubuh meningkat sampai diatas 41 0C
·         Tubuh gemetar
·         Selaput lendir kemerahan
·         Terdapat busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah sampai gelambir
·         Pada bentuk dada terdapat tanda-tanda peradangan paru yang diikuti dengan keluarnya ingus dan kesulitan bernafas Pada kondisi kronis hewan menjadi kurus dan sering batuk, nafsu makan terganggu
Pencegahan:

·          Pada daerah bebas SE dilakukan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan ternak ke daerah tersebut.

·          Bagi daerah tertular dilakukan vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan oil adjuvant setidaknya setahun sekali.

·          Bangkai hewan yang sakit dibakar atau dikubur

·          Bersihkan kandang dengan disinfektan

·          Pengobatan dilakukan dengan antibiotika Oxytetracyclin,

·          Streptomycin atau Preparat sulfa (sulfamezathine).

·          Ternak yang tertular dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Jaringan yang sudah rusak seperti paru-paru harus dibuang dan dimusnahkan dengan dibakar/dikubur. Karkas yang sangat kurus karena penyakit yang berjalan kronis dimusnahkan.


2.1.3. SURRA (TRYPANOSOMIASIS/Penyakit Mubeng)
Penyakit surra merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Parasit inimhidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Menurunnya kondisi tubuh akibat cekaman misalnya stress, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dan sebagainya merupakan faktor yang memicu kejadian penyakit ini. Penularan terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops dan Hematobia serta jenis arthropoda yang lain seperti kutu dan pinjal
Gejala Klinis yang dapat diamati :
·          Gejala Umum meliputi demam, lesu, lemah, nafsu
·          makan berkurang, lekas letih.
·          Anemia, kurus, bulu rontok, busung daerah dagu
·          dan anggota gerak dan akhirnya akan mati.
·          Di daerah endemik ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala.
·          Keluar getah radang dari hidung dan mata.
·          Selaput lendir terlihat menguning.
·          Jalan sempoyongan, kejang dan berputar-putar (mubeng) disebabkan karena parasit berada dalam cairan Cerebrospinal sehingga terjadi gangguan saraf.
·          Pencegahan dapat dilakukan dengan Pembasmian serangga penghisap
Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain
sumber : http://etikafarista.blogspot.com/2012/12/makalah-pengendalian-penyakit-pada-sapi.html

0 komentar:

Poskan Komentar