Jumat, 01 Maret 2013

PAN Minta Manipulasi Data Pemilu Melalui IT Tak Terulang

PAN Minta Manipulasi Data Pemilu Melalui IT Tak Terulang
      039E AHMAD RIFAI
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi berharap di Pemilu 2014 mendatang Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak mengulangi masalah Informasi dan Teknologi (IT) seperti di pemilu sebelumnya. PAN, kata Viva, berharap KPU bersikap jujur dalam menggunaan sistem IT untuk menentukan daftar pemilih tetap dan calon anggota legislatif yang melenggang ke parlemen.
"Pada pemilu tahun-tahun sebelumnya, kami menemukan kecurangan (IT) itu yang dilakukan oleh oknum yang memahami kecanggihan teknologi dan sistem perundang-undangan yang ada," kata Viva dalam diskusi 'Singkronisasi DP4 dan Penetapan Daerah Pemilihan (Dapil)' di Media Center Bawaslu, Jakarta, Jumat (1/3/2013). Tapi, kata dia, tidak dapat dipungkiri bahwa penyususanan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang akan menjadi Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pasti ada kendala.
Berdasarkan pengalaman pemilu sebelumnya, kata Viva, terjadi manipulasi kecurangan data yang dilakukan dengan sengaja. Menurutnya, KPU harus belajar dari pengalaman tersebut. "Kecurangan dalam perolehan suara melalui sistem IT KPU dapat terjadi kembali bila KPU tidak sigap menyelesaikan hal tersebut," ujar dia.
Anggota Komisi IV DPR RI itu menjelaskan, PAN menaruh kepercayaan besar pada kinerja KPU di bawah Husni Kamil Manik. Menurutnya, KPU yang sekarang ini harus menjalankan sistem IT KPU secara baik sehingga dapat menghasilkan sistem demokrasi yang bagus. "Jangan sampai sistem demokrasi Indonesia dicederai oleh oknum-oknum yang mengacaukan pemilu di Indonesia," tegas dia.
Karenanya, kata Viva, dia berpesan kepada KPU agar penggunaan IT tidak justru memunculkan manipulasi dan kecurangan. "Karena hal itu sangat memungkingkan," ujar dia. Kejahatan melalui teknologi, imbuh dia, tidak boleh terjadi lagi di KPU. "KPU harus betul-betul serius menangani ini jangan sampai seperti periode yang lalu itu muncul hacker dan akhirnya muncul partai baru seperti partai pisang dan nangka," tegas dia.                                           SUMBER:kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar