Rabu, 27 Februari 2013

Kredit perumahan dominasi penyaluran kredit BTN





9f18 lucky fazriyani
 
Bank Tabungan Negara mencatat total penyaluran kredit baru mencapai Rp 37,8 triliun sepanjang 2012. Capaian ini tumbuh 50,59 persen dibanding 2011 yang mencapai Rp 25,1 triliun.

"Jadi ada Rp 12,7 triliun pertumbuhannya," tutur Direktur Utama BTN Maryono di Menara BTN, Rabu (27/2).

Dari data perseroan tiga tahun terakhir, kucuran kredit baru BTN selalu meningkat. Pada 2010 mencapai Rp 21 triliun naik menjadi Rp 25,1 triliun di 2011, dan Rp 37,8 triliun pada 2012. "Jadi sekitar Rp 20 triliun net (pertumbuhan kredit), artinya terdapat angsuran kredit, atau ada beberapa angsuran atau kewajiban jatuh tempo yang dibayar debitor," jelasnya.

Sementara itu, outstanding kredit BTN tercatat sebesar Rp 81,41 triliun pada akhir tahun 2012. Nilai ini meningkat 28,04 persen dibanding 2011 yang mencapai Rp 63,56 triliun. Dari nilai tersebut, porsi kredit perumahan mendominasi. Sekitar 84 persen dari total outstanding kredit BTN mengarah ke sektor perumahan. Sisanya, 16 persen kredit non perumahan.

Direktur Keuangan BTN Saut Pardede menambahkan, yang termasuk kredit non perumahan antara lain kredit konsumer dan kredit komersial. Untuk kredit konsumer, Saut mencontohkan, beberapa produk yaitu kredit tanpa agunan (KTA), kredit kendaraan bermotor(KKB) dan kredit isi rumah.

Sementara yang termasuk kredit komersial antara lain kredit usaha rakyat (KUR), kredit modal kerja, dan kredit investasi. "KUR kita outstanding saat ini Rp 2 triliun," kata Saut. Sementara dari sisi rasio kredit bermasalah (NPL) gross, naik dari 2,75 persen menjadi 4,09 persen.

"NPL itu datang dari subsidi (
sKPR) karena kita punya produk interest only balance payment (pembayaran bunga saja, pokok dari subsidi) dan jatuh tempo banyak tahun ini. Kenaikan NPL ini dalam 2-3 tahun terakhir bayar bunga saja, sekarang harus bunga dan pokok jadi harus bayar bunga yang besar jadi kenaikan NPL," papar Saut.

Selain itu, kredit non perumahan sendiri menyumbang NPL sebesar 6 persen dari sisi kredit komersial.


 sumber: merdeka.com

0 komentar:

Posting Komentar