9F28 ROSIDAH B
Kasus korupsi silih berganti menjerat kader partai politik. Terakhir, suap impor daging sapi membawa Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) yang saat itu menjabat sebagai presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke balik jeruji besi.
Direktur Indonesia Budget Center, Arif Nur Alam, mengatakan, korupsi berkaitan erat dengan modal politik. Geliat korupsi akan semakin kencang mengingat 2013 disebut sebagai tahun politik.
"Tahun politik memberikan peluang kepada pengambil kebijakan baik kader partai maupun ketua partai yang ada di kementerian atau di parlemen untuk korupsi," kata dia kepada Okezone, Selasa (19/2/2013).
Ada dua pola korupsi hasil dari koalisi eksekutif dengan legislatif. Yakni pola mempengaruhi kebijakan dan pola mempolitisasi anggaran. "Pola mempengaruhi kebijakan terjadi pada kasus LHI," ungkapnya.
Pola korupsi dengan mempengaruhi kebijakan, hasilnya bisa untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok. Untuk kasus suap impor daging sapi, dia menjelaskan, tak bisa dipungkiri jika Luthfi punya relasi politik dengan Menteri Pertanian, Suswono. Keduanya, sama-sama kader PKS.
"Relasi politik antara LHI dengan Suswono itu bagian penting," ujarnya.
Indikasi jika LHI mempengaruhi kebijakan Suswono yakni pertemuan keduanya dengan importir daging di Medan. Dia berharap, KPK bisa menelusuri apa yang dibahas dalam pertemuan itu.
Untuk pola korupsi dengan politisasi anggaran, eksekutif dan parlemen konspirasi untuk mendistribusikan anggaran ke daerah untuk memperoleh dukungan atau daerah pemilihan yang berpotensi melabungkan suara. "Baik untuk kepentingan pemilu legislatif atau Pilpres," pungkasnya.
SUMBER : okezone.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar